Hollowsol

Di bawah kerak bumi ada dunia yang melengkung ke langit, dan mataharinya tidak pernah terbenam.

Daftar Playtest

Lima penyelam, satu dinding

Di Hollowsol, tanah tidak pernah datar. Kota dibangun di dinding yang melengkung sampai ke langit, jadi tetanggamu bisa berdiri terbalik di atas kepalamu. Pilih satu penyelam, dan dunia berputar sampai kakinya menapak.

Pilih tokoh di piringan, atau pakai panah kiri dan kanan.

Satu kawanan, tiga umur

Sailray berenang di udara. Gravitasi melemah ke arah matahari, jadi makin tua dan makin besar, makin tinggi ia terbang. Yang kecil bisa kamu pancing dari tebing. Yang dewasa bisa ditunggangi. Yang tertua membawa desa di punggungnya.

Spratling, Sailray muda bertubuh bulat bertotol ungu dengan satu layar kecil
Spratlinganak, rentang sayap 2 mMengikuti apa saja yang berkilau. Bisa dipancing.
Sailray dewasa dari depan, sayap lebar merah muda dan dua layar hijau pucat
Sailraydewasa, rentang sayap 14 mBisa ditunggangi setelah kamu menang adu tarik dengannya.
Old Sail dari samping, Sailray raksasa dengan desa kecil di antara layar punggungnya
Old Sailtertua, rentang sayap 160 mAda desa di antara layarnya. Desa itu ikut ke mana pun ia terbang.
Layar dan desa
Mata Old Sail

Pancing Langit

Baca tandanya, lalu tarik ke arah yang berlawanan. Tidak ada batas waktu.

Makhluk di ujung kail

Tali 5 depa

Enam cincin, dilihat dari matahari

Dari matahari, Hollowsol tampak seperti sasaran panah: lubang kutub di tengah, enam bioma melingkarinya. Bulan batu menyeret bayangannya melintasi cincin terluar setiap hari, dan dari situ semua orang di bawah sini menghitung waktu.

Klik cincin, atau pilih label dan pakai panah.

Dua laporan dari bawah

Satu ditulis orang yang baru jatuh. Satu lagi ditulis orang yang lahir di sini. Keduanya bercerita tentang hari yang sama.

Hari pertama yang tidak punya malam

Tali putus di kedalaman yang tidak sempat kubaca. Nadir jatuh hidung lebih dulu, menembus lapisan pakis, lalu berhenti miring di tanah yang hangat. Alat ukur bilang aku sudah di bawah kerak. Mataku bilang aku ada di dalam mangkuk.

Tanah di depanku naik. Bukan bukit, tapi seluruh daratan, melengkung ke kiri dan ke kanan sampai hilang di kabut merah muda. Di atas kepalaku ada sungai. Sungai itu mengalir terbalik, dan di tepinya ada kota kecil yang menaranya menunjuk ke bawah, ke arahku.

Matahari di sini kecil, kira-kira sebesar kuku ibu jari kalau tanganku lurus. Warnanya seperti bagian dalam kerang. Aku menunggu delapan jam supaya ia terbenam. Ia tidak bergerak sama sekali.

Yang bergerak justru bulan. Batu besar dan kasar, mengitari matahari pelan-pelan. Saat ia lewat di depan matahari, semuanya jadi ungu selama beberapa menit. Burung diam. Pakis menutup daunnya. Lalu cahaya kembali dan semua pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Aku melompat untuk tahu seberapa kuat tarikan di sini. Biasa saja. Lalu aku memanjat batang pakis setinggi tiga puluh meter dan melompat lagi dari puncaknya. Turunnya lama. Terlalu lama. Makin tinggi, makin ringan tubuhku.

Nadir masih menyala, tapi satu bornya patah. Aku butuh logam dan aku butuh orang yang tahu jalan pulang. Kota terbalik di atas kepalaku sepertinya tempat yang tepat untuk bertanya.

Bulan batu lewat di atas Tierhold

Kami tidak punya pagi atau malam. Kami punya gerhana. Bulan batu menutup matahari empat kali dalam satu putaran, dan setiap kali itu terjadi, seluruh Tierhold menyalakan lentera di atap.

Gerhana ke-4.112 jatuh pada hari orang permukaan itu datang. Aku mencatatnya karena dua hal. Pertama, bayangan bulan lewat lebih lambat dari perhitungan, dan itu belum pernah terjadi sejak aku memegang tongkat ini. Kedua, ada bunyi logam jatuh dari arah kutub, keras sekali, sampai kaca di menara tangga ketujuh retak.

Kesh yang pertama melihat kapalnya. Ia berdiri di tepian, kaitnya masih menancap di dinding, dan berteriak ke arah langit. Dari Tierhold, Fernreach ada di atas kepala kami. Jadi bagi kami, gadis itu jatuh ke atas.

Orang permukaan selalu bertanya kenapa kota kami dibangun miring. Kota kami tidak miring. Dunia ini yang melengkung, dan kami mengikutinya. Setiap anak tangga di Tierhold sedikit berbeda sudutnya dengan anak tangga di bawahnya. Kalau kamu berjalan cukup jauh, kamu akan sampai di tempat yang dari bawah tampak seperti langit-langit.

Odile bertanya kapan gerhana berikutnya. Aku menjawab: setelah kamu tidur dua kali. Ia tertawa, karena di tempatnya orang tidur saat gelap. Di sini gelap hanya datang sebentar, dan kami memakainya untuk berkumpul, bukan untuk tidur.

Matahari di bawah sini tidak pernah terbenam.Bulan batu yang memberi tahu kapan hari berganti.Tali sudah putus. Jalan pulang kamu cari sendiri.

Trailer Hollowsol

Buka di YouTube