Hari pertama yang tidak punya malam
Tali putus di kedalaman yang tidak sempat kubaca. Nadir jatuh hidung lebih dulu, menembus lapisan pakis, lalu berhenti miring di tanah yang hangat. Alat ukur bilang aku sudah di bawah kerak. Mataku bilang aku ada di dalam mangkuk.
Tanah di depanku naik. Bukan bukit, tapi seluruh daratan, melengkung ke kiri dan ke kanan sampai hilang di kabut merah muda. Di atas kepalaku ada sungai. Sungai itu mengalir terbalik, dan di tepinya ada kota kecil yang menaranya menunjuk ke bawah, ke arahku.
Matahari di sini kecil, kira-kira sebesar kuku ibu jari kalau tanganku lurus. Warnanya seperti bagian dalam kerang. Aku menunggu delapan jam supaya ia terbenam. Ia tidak bergerak sama sekali.
Yang bergerak justru bulan. Batu besar dan kasar, mengitari matahari pelan-pelan. Saat ia lewat di depan matahari, semuanya jadi ungu selama beberapa menit. Burung diam. Pakis menutup daunnya. Lalu cahaya kembali dan semua pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Aku melompat untuk tahu seberapa kuat tarikan di sini. Biasa saja. Lalu aku memanjat batang pakis setinggi tiga puluh meter dan melompat lagi dari puncaknya. Turunnya lama. Terlalu lama. Makin tinggi, makin ringan tubuhku.
Nadir masih menyala, tapi satu bornya patah. Aku butuh logam dan aku butuh orang yang tahu jalan pulang. Kota terbalik di atas kepalaku sepertinya tempat yang tepat untuk bertanya.





